Kaya Dengan Hidup Sehat

Seri Artikel Kebiasaan Positif Orang Kaya

Tahukah Anda bahwa sebungkus rokok bahkan ada yang harganya sama dengan satu kilogram apel segar? Saya yakin semua orang sepakat bahwa rokok memberikan dampak buruk yang jauh lebih banyak bagi kita, daripada kegunaannya. Dan semua orang tahu bahwa apel segar sangatlah bermanfaat bagi kesehatan tubuh kita. Tapi kenapa sebagian besar dari kita lebih suka membelanjakan uangnya untuk sebungkus rokok daripada satu kilo apel segar. Bahkan kalau dihitung setiap harinya, ada orang yang sampai membelanjakan satu bungkus rokok bahkan lebih satu harinya. Sedangkan satu kilo apel, normalnya untuk satu orang bisa untuk dua-tiga hari.  

Bagi saya, ini adalah salah satu hal yang aneh yang menimpa kita manusia. Bahkan dibungkus rokok sudah jelas-jelas ditulis peringatan pemerintah akan bahayanya merokok. Tapi sebagian orang ini lebih suka merokok dari pada menikmati sebuah apel segar!

Merokok, adalah salah satu contoh di mana kita manusia masih menganggap tidak begitu penting kebiasaan pola hidup sehat. Saya yakin hampir semua dari kita bisa dengan lancar menyebutkan bagaimana berpola hidup sehat. Makan tidak berlebihan, utamakan kebutuhan serat, seimbangkan makanan berkalori dengan aktifitas, olahraga, istirahat cukup, mampu memimpin diri sendiri untuk mengelola stress sebaik-baiknya. Dan itu semua penting, kenapa…? Karena pada dasarnya aset yang paling berharga dari kita adalah apa yang ada pada diri kita. Badan kita secara fisik, pikiran kita, hati kita. Dan itulah kekayaan kita yang paling berharga.

Tapi anehnya, hampir semua orang tahu itu, tapi hanya sedikit dari kita yang berkemauan untuk berusaha melakukan kebiasaan-kebiasaan pola hidup sehat ini. Lihatlah di sekitar kita, makanan cepat saji hampir selalu menjadi menu paling utama saat makan siang. “Tidak ada waktu..!” begitu mereka berkilah. Kerja sampai larut malam. Tidak begitu peduli terhadap apa yang terjadi dengan keluarganya. Dan ketika mereka merasa tertekan, merokok, minuman keras, dunia gemerlap malam, adalah jawabannya. Demi sebuah alasan untuk mengelola stres.

Dari sinilah kita melihat adanya sebuah paradoks dalam kehidupan kita. Sebagian besar orang berlomba-lomba menumpuk uang, bekerja keras tak kenal batas, menimbun aset, demi kebebasan finansial katanya. Tapi justru tidak peduli terhadap aset kekayaan yang selama ini ada dalam dirinya, yaitu kesehatan fisik dan pikirannya. Karena logikanya sebenarnya sederhana: apa gunanya itu semua–hasil dari kerja keras, kekayaan materi, bahkan kebebasan finansial kelak sekalipun—bila ketika itu semua bisa didapat, kita terlalu sakit untuk bisa menikmati manfaat dari itu semua.

Saya senang kebetulan saat ini anak saya yang masih berumur lima tahun sudah bisa saya ajak untuk mulai menyerap sebuah logika bahwa makanan yang enak belum tentu makanan yang menyehatkan. Saya menganggap pengertian ini penting bagi anak saya, karena saya berusaha sejak dini berusaha mengajak anak saya untuk menghargai kekayaan terbesar dari diri kita yaitu badan dan pikiran kita sendiri.

Prakteknya memang tidak begitu mudah. Seorang anak pastilah lebih mudah tergoda oleh makanan-makanan yang memang begitu enak bagi lidah mereka. Terkadang susah bagi kita untuk menahan mereka mengonsumsi berlebihan makanan anak dalam kemasan, makanan cepat saji, minuman instan. Sama susahnya memberi pengertian kepada anak, bahwa sayur, buah, daging rebus, walaupun mungkin agak asing bagi lidah mereka, tapi justru itulah yang bermanfaat bagi tubuh.

Tapi itulah salah satu upaya yang akan selalu saya lakukan. Agar anak saya memiliki kebiasaan pola hidup sehat!

Karena logikanya, ketika kita ingin memiliki kekayaan materi, justru seharusnya kebiasaan pola hidup sehat dululah yang seharusnya mendasari semua aktivitas kita dalam rangka berusaha mendapatkan kekayaan itu. Dan jangan salah, pola hidup sehat ini tidak hanya secara fisik saja bagi tubuh kita. Tapi juga bagi pikiran dan hati kita. Selalu berupaya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan adalah juga salah satu upaya melakukan kebiasaan hidup sehat. Selalu membina hubungan baik sesama, hanya melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, komunikasi yang efektif dalam keluarga, tidak korupsi, buang sampah pada tempatnya, bersahabat dengan alam dan selalu menghargainya, adalah juga beberapa misal.

Dan Covey pun tak lupa dengan ide habit ketujuhnya dengan perumpamaan untuk selalu ‘mengasah gergaji’ kehidupan kita. Yang begitu lengkap mencakup empat dimensi yaitu dimensi fisik—pola makan sehat, olahraga, istirahat cukup, mengelola stres, kemudian dimensi mental—dengan selalu menyempatkan diri untuk memperkaya wawasan, merenung, kemudian sampai menyentuh dimensi sosial emosional seperti menjalin hubungan baik dengan orang lain, tetangga, lingkungan. Mengutamakan pelayanan, selalu memasang wajah ramah dan tersenyum. Dan juga dimensi spiritual, dengan rajin ibadah, mendekatkan diri kepada Tuhan, selalu bertanya akan kenapa kita dilahirkan di dunia ini. Dan itu semualah yang saya maksud sebagai pola hidup sehat.

Banyak dari kita ingin kaya. Tapi banyak pula dari kita yang justru melupakan esensi dari kaya itu sendiri ketika kita justru tidak menghargai aset kita yang paling berharga. Seperti perumpamaan membedah perut angsa pada kisah angsa dan telur emas. Mungkin tanpa pola hidup sehat pun, ada yang bisa mencapai kekayaan. Tapi coba lihatlah, mereka kaya tapi keluarga mereka tak utuh lagi karena perceraian, mereka kaya tapi sakit, mereka kaya di dalam rumah pagar tinggi dan hidup bak di dalam penjara penuh kecurigaan, setiap hari curiga akan siapa yang datang di depan pintu pagar rumahnya. Mereka kaya tapi tergantung kepada obat terlarang, mereka kaya tapi selalu merasa terancam, mereka kaya tapi diuber-uber kasus korupsi.…

Kaya seperti itukah yang nantinya harus Anda jalani? Atau Anda mulai dari sekarang mau untuk memulai pola hidup sehat…![pa]


Pitoyo Amrih
bersama memberdayakan diri dan keluarga

 

 

 

One Response

  1. Makanya ada pepatah mengatakan

    matikanlah rokok mu
    sebelum rokok mematikan mu…….
    tq.. salammmmmmmm

Comments are closed.

%d bloggers like this: