Durian, Pohon Pelindung dan Hasilkan Uang

Durian Langka dari Agam Mempura

DURIAN berkualitas ternyata tidak hanya datang dari Sumatera Barat. Kabupaten Siak-RIAU pun ternyata memiliki kebun durian yang dapat menghasilkan buah berkualitas. Sebut saja durian kepala gajah, tembaga, bantal, tuako, gasing, manggis dan lilin, yang rasanya tak kalah enak bila dibandingkan durian Montong dari Thailand. 

Durian-durian ini terdapat di Kampung Agam, Kecamatan Mempura. Pohon-pohon itu berukuran besar dan menjulang tinggi dengan buah yang masih tergantung di batangnya. Nama Kampung Agam sendiri menurut seorang warga, Wan Said (58), tak terlepas dari orang-orang Agam asal Sumatera Barat. “Durian ini ditanam oleh orang-orang Agam yang menempati kampung ini sejak ratusan tahun lalu,” kata Wan Said, Rabu (30/7) lalu.

Menurutnya, penanaman durian pada zaman dulu masih menggunakan sistem amanah. Karena itu, pohon durian yang tumbuh letaknya tidak teratur. Meski usia rata-rata pohon lebih dari 200 tahun, asal musim panen setiap pohon berbuah rata-rata 500 biji.

Keberadaan kebun durian di Kampung Agam ini dapat menjadi potensi tersendiri bagi Siak. Pada 17 Juli lalu, tim dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Siak dan Pekanbaru beserta tenaga ahli dari Balai Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (BPPM) PT Arara Abadi meninjau lokasi perkebunan tersebut untuk mendata varietas durian yang ada.

Kasubdin Pertanian Distanbun Siak RIAU, Hardison mengatakan, ada beberapa jenis durian lokal yang diketahui dan kualitasnya cukup baik di tempat itu, seperti durian kepala gajah, durian bantal, durian tembaga dan durian nangka.

“Jenis-jenis inilah nantinya akan didata dan diuji keunggulannya. Jika memang berkualitas, akan dijadikan pohon induk untuk menjaga keberadaannya,” ungkap Hardison.

Dalam kunjungan tersebut, tim setidaknya menemukan 13 durian kultipar atau belum diberikan nama secara nasional. “Artinya, durian tersebut masih dinamakan dengan nama lokal,” ujar Ir Eka Purwani MSi dari Balai Pengkajian Tekhnologi Pertanian RIAU. Dari 13 jenis yang diuji rata tersebut, varietas yang menunjukkan sisi menarik yaitu, durian tembaga. “Hanya buahnya terlalu kecil dan satu buah maksimal empat biji,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Kepala BPPM PT Arara Abadi Panji Mulya didampingi staf BPPM Harsono mengatakan, kekurangan durian lokal dibanding durian impor seperti montong hanyalah dari segi ukuran yang relatif lebih besar.

“Jika dari segi rasa, durian lokal seperti jenis kepala gajah atau tembaga, jauh lebih enak dan manis. Karena itu kita akan berupaya membudidayakan durian lokal ini, apalagi kini sudah diambang kepunahan,” kata Panji Mulya.

BPPM PT AA saat ini sudah berhasil membudidayakan durian lokal asal Kampar yang nyaris punah seperti durian omeh (EM-24), empu kunyit dan jantung.

Jangan Kena Matahari

Membudidayakan durian memang gampang-gampang susah. Gampang, karena durian jarang terserang penyakit dan mudah dalam perawatan. Susahnya adalah dibutuhkan ketelatenan dan pengetahuan yang cukup agar berhasil.

Berikut tips dari BPPM PT Arara Abadi tentang cara membudidayakan durian, khususnya dengan sistem okulasi:

*Batang bawah sebaiknya berasal dari biji dan sudah berusia minimal 6 bulan dan ditanam dalam poliback. Kemudian pilihlah “mata tunas” yang jaraknya sekitar 15 cm dari tanah, lalu disayap dan ditempelkan mata tunas dari durian yang akan dikembangkan dan diikat.

*Setelah 15 hari, bila mata tunas itu berwarna hijau artinya proses okulasi berhasil, bila warnanya hitam/coklat artinya gagal. Selanjutnya sisa batang dibuang.

*Enam bulan kemudian (atau kira-kira pohon sudah setinggi 50-60 cm), bibit sudah bisa ditanam di dalam lubang dengan ukuran 50x50x50 cm. Kemudian diberi pupuk kandang 3 kg, NPK 1 ons, RP 0,5 kg. Bila tanah bergambut bisa diberi kapur 0,5 kg.

*Selanjutnya bibit durian ini harus diberi pelindung, bisa menggunakan pelepah kelapa atau sawit hingga berumur setahun. Pada masa inilah bibit rentan mati. Dari penelitian BPPM, jika bibit tidak diberi pelindung maka 80-90 persen bibit mati.

*Setelah tanaman berusia setahun, diberi pukuk NPK 2,5 ons. Enam bulan kemudian diberi 5 kg pupuk kandang dan 0,5 ons NPK mutiara.

*Setelah tanaman berusia dua tahun, diberi pupuk NPK mutiara 0,75 kg dan 5 kg pupuk kandang. Enam bulan berikutnya diberi pupuk NPK seberat 1 kg.

*Setelah tanaman berusia tiga tahun, diberi pupuk NPK seberat 1 – 2 kg dan terus dilakukan setiap tahun agar durian berbuah lebat.

*Tips memberi pupuk: gali tanah di sekeliling tanaman khususnya pada pucuk canopy (pucuk daun terakhir) karena di sanalah akar yang terbanyak. Setelah diberi pupuk kemudian ditimbun kembali.

*Ketika tanaman berusia setahun dilakukan pangkas bentuk yang bertujuan agar ada keseimbangan pohon dan untuk membuang cabang-cabang liar.

*Ketika tanaman berusia dua tahun kembali dilakukan pangkas buah, yakni membuang cabang-cabang yang tidak proporsional. Durian mempunyai karakter berbuah pada cabang utama. Jadi cabang-cabang muda lebih baik dibuang karena hanya mengganggu tanaman.

*Setelah memasuki usia 4 tahun, durian sudah mulai berbuah dan bisa berusia hingga ratusan tahun, tergantung perawatan. (hes/han)

[sumber : tribunpekanbaru.com  – editing ]

7 Responses

  1. Hati2 kalau berdiri dibawah pohon durian yg lagi masak dan lagi jatuh sendiri, bisa nancap dikepala, kecuali pakai hlem

  2. Dimana saya bisa membeli bibit durian tembaga.Thank’s

  3. bagaimn cr perawatan durian yang tumbuhx kurang bagus padhl udh lbh 4 taon….??? thanks

    salam kenal bu rina,
    saya kemarin juga baru coba diskusi & trial dg teman di Lipat Kain – Pekanbaru,
    beberapa permasalahannya yg secara garis besar ada 2, yaitu Bibit & Lingkungan (lahan). Kalo bibit kurang berkualitas, memang akan susah dipaksakan. Namun bila karena lingkungan, maka diperbaiki dengan kemampuan tanaman dlm menyerap nutrien lebih baik, juga dibuat lingkungan tumbuhnya lebih sesuai (air, keasaman, juga kecukupan sinar matahari)
    namun kalo 4 tahun masih bisalah ditingkatkan..
    Dmk, secara singkatnya. Tks

  4. berapa meter jarak tanam durian

  5. sangat membantu

  6. Salam Kenal.
    mas terima kasih atas referensi yang telah saya baca, salam buat keluarga.

  7. potensi lokal memang harus senantiasa diberdayakan mas,,,saya sepakat!

Comments are closed.

%d bloggers like this: