Cepu Pladu

Aku dengar pagi ini di berita Radio BBC Indonesia dan terbangun karenanya, tentang warga Cepu, suatu kota kecamatan di perbatasan Propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang ramai-ramai memungut ikan yang mabuk di sepanjang pinggiran Sungai Bengawan Solo akibat perbedaan kondisi air sungai di hulu dan di sepanjang DAS Bengawan Solo di awal musim hujan. Peristiwa ini disebut dengan pladu, pertanda musim hujan sudah datang.

tangkap-ikanPladu dimana ikan-ikan sungai ini hanya pusing (bahasa setempat : mendem), tapi tidak mati, menghindari keruhnya aliran air di tengah sungai, ikan-ikan ini menepi dan dengan mudahnya dipungut oleh warga. Ikan pladu ini diantaranya ikan bethik, ikan wader yang merupakan ikan khas Bengawan Solo. Ini adalah suatu karunia alam mengingat pertanian Cepu merupakan pertanian tadah hujan dan kering.

Hal ini adalah fenomena alam yang selalu terjadi setiap tahun. Muncul ide, bagaimana fenomena alam ini bisa dijadikan Agenda Pariwisata pada periode Oktober – Nopember dan menjadi ciri khas Kota Cepu. Semoga dengan pemberian alam ini semakin mengajak kita untuk bersyukur kepada Tuhan YM Kuasa.

 

Kota Cepu

atlas-cepu1

Cepu adalah kota kecamatan di Kabupaten Blora Jawa Tengah, yang letaknya di perbatasan dengan Propinsi Jawa Timur. Luas wilayahnya sekitar 120 ha, berjarak 750 km ke timur Jakarta,  160 km ke tenggara Semarang, 125 km ke timur laut Solo, 160 km ke barat Surabaya.

Pada jaman penjajahan, kota kecil ini sangat strategis karena kaya akan kandungan minyak bumi dan hutan jati berkualitas tinggi. Dan di sekitar tahun 2005, nama kota ini terangkat terkait topik dunia perminyakan, yaitu pengelolaan eksplorasi minyak Blok Cepu antara Exxon Mobile dan Pertamina.

Banyak peninggalan Belanda, terutama arsitektur bangunannya. Misalnya, sewaktu ada pemugaran gereja Katholik Cepu yang dibangun sekitar awal tahun 1900an, diketahui bahwa pondasi gereja tersebut dibangun diatas lapisan aspal setebal + 50cm dengan tiang beton pancang 1,5m di dalam tanah diurug dan 1 m berikutnya diatas tanah yang dirangkai dengan besi beton seperti rel kereta api. Arsitektur ini juga digunakan untuk bangunan peninggalan Belanda lainnya, seperti Gedung Pertemuan “ Soos Sasono Suko”, perumahan dan gedung londo (bule) Belanda yang disebut loji klunthung. Dasar arsitektur ini digunakan untuk menyesuaikan kondisi geologis Cepu yang sangat labil akibat kegiatan seismic dan pengeboran minyak bumi yang rawan akan gempa atau pergeseran. Jadi pondasi aspal yang lentur ini yang menahan getaran tersebut. Tiang pancang ini juga banyak ditemui pada arsitek bangunan / rumah di daerah rawa, gambut dan sejenisnya sebagai penyesuai kondisi iklim yang panas alias AC alam yang semriwing (sorry, saya bukan arsitek, bukan orang teknik sipil, lho). Peninggalan lain yang sangat bermanfaat sampai sekarang adalah dibuatnya jalur kereta api Jakarta- Surabaya yang melintasi Kota Cepu. Dan sampai saat ini terdapat instansi strategis di kota kecil ini, diantaranya : Pusdiklat Migas (Dept ESDM), Pertamina EP Cepu, Mobile Cepu Limitted (MCL)-anak perusahaan Exxon Mobile.Ltd, Perum Perhutani I Jawa Tengah, IPKJ (Industri Pengolahan Kayu Jati) Jawa Tengah, Akademi Minyak dan Gas (Akamigas), Sekolah Tinggi Teknologi Ronggolawe (STTR), di dukung dengan sebuah hotel katagori hotel berbintang.

Sungai Bengawan Solo yang melintasi Kota Cepu sungguh sangat strategis, selain untuk air baku konsumsi masyarakat Cepu, juga sebagai urat nadi perekonomian sejak masa lalu. Dan, syukurlah, dengan telah dibangunnya DAS Bengawan Solo, kekhawatiran banjir mulai banyak berkurang. Namun demikian pengelolaan DAS Bengawan Solo masih harus lebih diperhatikan dari hulu hingga hilir yang terancam oleh tergerusnya hutan pelindung yang mulai kritis, dimana terakhir banjir terjadi Natal Desember 2007 akibat Bendungan Gajah Mungkur tak mampu lagi menahan debit air atau karena pendangkalan. Semoga langkah preventif mengantisipasi banjir di DAS Bengawan Solo sudah dan selalu dilakukan.

Perkembangan kota Cepu, yang dengan potensi kekayaan alam yang besar dan meng-global, relative sangat lambat, tata kota yang tidak mencerminkan Kota Minyak, buruknya hubungan birokrasi dengan warga Cepu yang menganggap potensi tersebut hanya sebagai perahan dibawah menterengnya keprabon kabupaten yang tidak beranjak dari kemiskinan. Hanya di 5 tahun terakhir ini saja dibangun 1 sarana hiburan warga, yaitu Taman Seribu Lampu di sepanjang jalan depan RSU sampai SD/gereja Katholik. Itupun hanya karena Putra Cepu yang menjadi bupati di blora. Sungguh tidak sebanding dengan nilai strategis dengan potensi ekonomi, perdagangan, jalur transportasi, pendidikan dan industri. Ayo majukan dan sejahterakan Cepu !

 

%d bloggers like this: